Kawasan Sa'dan sebelumnya sudah ditetapkan sebagai pusat penghasil kerajinan tenunan khas Tana Toraja. Para pengrajin masih memproduksi tenunan dengan cara tradisional. Kain tenun jadi seringkali menjadi bahan dasar berbagai jenis pakaian khas Toraja, seperti selendang. Atau bahan dasar taplak meja dan sarung.
Bahan tenunan ada yang terbuat dari benang kain, adapula terbuat dari serat nenas. Namun, kain yang berbahan dasar serat nenas sudah jarang ditemui karena sulit memeroleh serat nenas.
Di kampung ini, selain bisa melihat langsung cara menenun, wisatawan juga bisa belajar langsung membuat selendang, baju, sarung, dan lain-lain. Sebagai pusat penghasil kerajinan hasil tenunan di Toraja Utara, Sa'dan kini menjadi salah satu objek wisata yang kerap ramai dikunjungi wisatawan khususnya di musim
libur, Juni hingga Oktober.
"Tapi sekarang sepi sekali pengunjung pak, penghasilan kita terkadang hanya Rp 500 ribu per bulan. Padahal di musim libur, kita bisa menghasilkan omzet rata-rata Rp 2 juta," ujar Turu Ranteallo,42, penenun di Kampung Sa'dan, kepada penulis, belum lama ini.
Hal senada dingkapkan, Maria, 76, perempuan paruh baya ini berharap ada gebrakan pemerintah daerah untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
Di tempat ini, terdapat puluhan penenun yang didominasi perempuan lanjut usia yang mengalami nasib sama. Kendati sepi pengunjung, para penenun mengaku tetap beraktivitas karena menenun sudah menjadi tradisi warisan moyang mereka.
Turu mengungkapkan, keahliannya menenun diwariskan oleh orang tuanya sejak duduk di bangku kelas 1 SD. Perempuan dua anak itu mengaku menenun merupakan tradisi turun temurun warga Sa'dan yang sekaligus menjadi sumber penghasilan.
fajar_online
Tidak ada komentar:
Posting Komentar